SELAMAT DATANG DI HALAMAN KAMI


Selamat datang di Akun kami, Semoga dapat bermamfaat bagi kita semua
Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2014

Setiap orang yang beriman pasti berharap memiliki hati bersih



Setiap orang yang beriman pasti berharap memiliki hati bersih dan berkilau, sebab hati yang bersih dapat memantulkan cahaya ruhaniah, kemudian menjadi penglihatan batin (bashiratul qalbi) dalam memandang keelokan wujud Allah. Namun cahaya ruhaniah hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah melampaui pergulatan ruhani.
“Bagaimana hati dapat memantulkan cahaya, padahal gambar selain Allah terlukis dalam cermin hatinya? Atau bagaimana orang dapat berangkat menghadap Allah, padahal hatinya masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau bagaimana orang bisa antusias dapat masuk ke hadhirat Allah, padahal hatinya belum suci dari janabah kelalaiannya? Atau bagaimana bisa berharap dapat memahami kedalaman rahasia ruhani, padahal belum bertaubat dari semua kesalahannya?”.
Hati seorang hamba itu sebagai tempat Allah memantulkan cahaya-Nya, pantulan cahaya itu akan menerangi basyariah (raga) manusia. Jika sumber cahaya itu diibaratkan matahari, maka bumi yang menerima cahaya dari rembulan sebagai tempat pantulan cahaya matahari. Cahaya itu akan sampai ke bumi jika tidak ada hijab berupa awan atau mendung yang menghalangi.
Hati buram
Hati yang selalu diwarnai oleh berbagai persoalan dunia, menjadi buram dan gelap. Jika hakikat dunia disebut zhulmah (gelap), maka wujud Allah diibaratkan sumber cahaya yang menerangi hati. “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi” (An-Nuur: 35). Bagaimana hati bisa memantulkan cahaya Ilahi, jika masih tertutup oleh keadaan dan lukisan-lukisan dunia. Karena hati yang tertutup oleh awan dunia pasti jadi gelap gulita. Pada dasarnya, gelap dan terang itu suatu keadaan tak terpisah sekaligus tak bisa disatukan. Jika dianalogikan: Wujud gelap karena cahaya ada di baliknya, disebut terang karena cahaya beserta dengan gelap. Tetapi gelap dan terang hakikatnya satu namun tak menyatu, bisa juga dimaknai sebagai dua wujud tak terpisahkan.
Tatkala hati tidak mampu melihat dengan bashiratul qalbi (penglihatan hati), pasti ada yang menghalangi sumber cahaya tersebut, sehingga hati tidak dapat memantulkan cahayanya. Yang menghalangi wujud Allah ialah pandangan dan rasa kemanusiaan (basyariah) pada setiap wujud selain-Nya. Jika hati orang yang menuju Allah (salik) ada rasa cinta dan ambisi untuk memiliki dan menguasai sesuatu, maka rasa terhadap sesuatu itu juga tirai atau hijab. Kendatipun sesuatu itu hakikatnya tidak ada, tapi rasa basyariah yang mengusung sesuatu menjadi gambar dan lukisan di dalam hati, itulah hakikat Hijab!
Belenggu syahwat
Hati yang sarat dengan lukisan dunia akan menimbulkan letupan-letupan syahwat kehidupan. Hembusan angin gairah mengobarkan api tamak, menjilat dan membakar akal. Puing-puing nafsu berserakan menjadi sampah ruhani. Asap cinta memenuhi hati, menjelma rangkaian tali-tali pengikat yang membelenggu perjalanan (menuju Allah).
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”(Ali ‘Imran: 14).

Pada hakikatnya, fasilitas hidup yang Allah sediakan di dunia adalah tali-tali syahwat yang dapat menjerat hati. Keindahannya sebatas fatamorgana dan kenikmatannya mengukir persoalan hidup bagi orang yang berjalan menuju Allah. Persoalan demi persoalan datang silih berganti menghimpit hati dan melelahkan jiwa. Kendatipun harus dimaknai setiap persoalan sebagai ujian dan cobaan, yang semestinya tidak menghalangi perjalanan, namun tidak banyak yang mampu memahami.
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (Al Anbiyaa’: 35).
Kehidupan dunia bagi orang yang beriman adalah penjara. Maka siapa pun yang tidak mampu membebaskan diri dari penjara tersebut, niscaya akan terbelenggu oleh syahwat rasa memiliki dan menguasai yang berujung pada kegelisahan, seperti dihantui rasa takut kehilangan sesuatu yang dicintai.
Kemudian, bagaimana bisa berangkat menuju Allah jika tidak mampu melepaskan diri dari tirai syahwat yang membelenggu. Padahal Allah sudah memberi jalan kepada hamba-hamba-Nya untuk “berniaga ruhani”, dengan imbalan keuntungan berupa pembebasan diri (manusia) dari belitan syahwat dan penderitaan.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar” (Ash Shaff: 10-12).
Mandi ruhani

Pergualatan ruhani untuk mencapai “mahligai ilahi” adalah sebuah perjuangan bagi orang-orang yang merindukan perjumpaan dengan Rabbnya (baca: Allah). Namun perjuangan itu tak akan ada hasilnya, bila tidak disertai persiapan matang.
Bekal yang harus disiapkan untuk menuju kepada Allah antara lain adalah: Taqwa sebagai bekal, zikir sebagai senjata, semangat sebagai kendaraan, mursyid sebagai pembimbing, dan yang terakhir adalah saudara seiman sebagai teman seperjalanan. Persiapan tersebut harus dirangkai dengan pengabdian melalui media basyariah (raga) dan nafsaniah (jiwa).
Maka hati yang bersih dari berbagai kotoran dunia yang membuat lalai, menjadi syarat penting menuju Allah. Membersihkan hati sama dengan “mandi ruhani” (janabat), mengawalinya dengan sikap batin tidak syirik, dilanjutkan ibadah lahiriah (amalan shalih).
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, (dengan cara) dia ingat nama Tuhannya (zikir), lalu dia sembahyang (hubungan yang mesra)” (Al A’laa: 14-15).
Sikap tenang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, adalah tanda dari orang yang hati dan jiwanya sudah bersih.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku” (Al Fajr: 27-30).
Ampunan
Harapan setiap orang yang menuju Allah
adalah kemampuan memahami ilmu-ilmu-Nya yang menjadi pelita perjalanan. Karena ilmu itu sebagai jembatan untuk mencapai amal ibadah yang sempurna. Amal ibadah juga bisa jadi jembatan (dengan izin-Nya) untuk meraih ilmu-ilmu yang ada pada rahasia Allah (laduni). Namun untuk menyentuh rahasia ruhani yang halus dan penuh metafor (kinayah), harus melalui tahapan pembersihan hati dan jiwa dari maksiat lahir maupun batin (taubatan nasuha).
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (An Nisaa’: 17).
Tak ada satu pun manusia yang terlepas dari dosa masa lalu, juga tak ada jaminan terbebas dari kesalahan-kesalahan yang akan datang, kecuali Nabi Besar Muhammad saw. yang sudah jelas Ma’sum(terpelihara). Namun Allah tetap membuka pintu taubat untuk setiap dosa hamba-Nya, kecuali dosa syirik.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An Nisaa’: 48).
Ampunan Allah akan mengalir laksana sumber air yang tak ada habisnya, tentu ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh membersihkan hati dari sampah dunia yang membuat lupa pada Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(At Tahrim: 8).
Proses pertaubatan dilalui dengan rangkaian: menyesali, berhenti dan berjanji untuk tidak mengulanginya, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah ritual, baik yang fardhu (wajib) maupun yang nawafil (sunah). Jika proses pertaubatan telah dilalui, maka tidak menutup kemungkinan Allah akan membukakan rahasia-rahasia ruhaniah-Nya yang penuh metafor. Tak ada yang dapat menyentuh wilayah ruhani, kecuali orang-orang yang telah dibersihkan hatinya. Dengan demikian bisa pula dimaknai, kebersihan hati merupakan kunci untuk membuka gerbang alam ruhani.
Hijab
Berjalan menuju Allah tidak sama dengan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, seperti pergi ibadah haji misalnya. Jika berjalan menuju rumah Allah (Ka’bah) disebut “haji syari’at”, maka berjalan menuju Allah bisa disebut “haji hakikat”. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Al Kahfi: 110).
Berjalan menuju Allah butuh persiapan yang baik dan benar, tidak cukup hanya berbekal semangat yang membara, tanpa persiapan lahir dan batin. Bila persiapan yang dimiliki tidak optimal, maka tidak menutup kemungkinan akan terjebak di rimba nafsu yang akhirnya menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Meskipun pada hakikatnya Allah itu tidak terhijab oleh sesuatu apapun, bahkan Allah sendiri yang membuat hijab untuk menutupi diri-Nya dengan wujud yang fana (tidak ada) ” Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (Al Qashash: 88).
Persoalan hijab pada dasarnya hanya masalah rasa dan pandangan manusia dalam memaknai sesuatu. Akan ada wujud hijab, bila dipandang secara hissy (materi). Tetapi hijab itu jadi tidak ada, ketika dilihat secara maknawi. Karena pada hakikatnya selain Allah itu tidak ada.
“Setiap sesuatu itu binasa (fana) dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar Rahmaan: 26-27).
Ibnu ‘Athoillah menjelaskan di dalam Hikamnya: “Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepadamu adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijabimu dari melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujud sertanya”.
Beliau juga merangkai ketakjuban dalam untaian kalimat indah berikut ini:
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang menampakkan segala sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak nyata dengan segala sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat di setiap sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang tampak pada tiap-tiap sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia yang nyata sebelum adanya tiap-tiap sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih jelas dari segala sesuatu apapun.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia Esa, tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.
·         Bagaimana mungkin dapat dibayangkan Allah terhijab oleh sesuatu, padahal andaikan tak ada Dia, niscaya tak akan ada segala sesuatu.
Bila Allah hendak memberi petunjuk dan membuka hijab kepada seorang hamba tentang diri-Nya, maka Ia menutup pandangan hamba dengan tirai kesucian-Nya, sehingga hamba itu tidak mampu melihat sesuatu selain wujud-Nya. Karena pada hakikatnya wujud akwan (keadaan) itu bersifat adamiyyah (sesuatu yang tidak ada). Sebagaimana pula kata pujangga arab: “Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka. Dan tiap-tiap nikmat kesenangan dunia itu, pasti akan rusak lenyap”.
Tak ada hijab
Dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada hakikatnya Allah itu tidak terhijab oleh sesuatu apapun, sebab keberadaan sesuatu yang bersifat adamiyah tidak mungkin dapat menghijabi Allah. Bahkan sebaliknya, makhluk yang bernama manusia itulah yang terhijab, sehingga tidak dapat melihat adanya Allah. Sebab sekiranya ada sesuatu yang mampu menghijabi Allah, berarti sesuatu itu dapat menutupi wujud Allah. Jika ada yang mampu menutupi-Nya, berarti wujud Allah dapat terkurung oleh sesuatu yang mengurung-Nya, maka sesuatu yang terkurung, sudah pasti dapat dikuasai oleh yang mengurung. Maha Suci Allah dari sangkaan orang-orang yang jahil (bodoh), padahal Allah yang berkuasa atas semua makhluk-Nya.
Para ‘arifin billah berkata: “Segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya tidak ada”. Maksudnya, keberadaan Allah tidak dapat disamakan dengan sesuatu apapun. Wujud sesuatu selain Allah tak ubahnya wujud bayangan yang selalu bergantung kepada yang memberi bayangan. Melihat bayangan tanpa mengetahui sumber bayangan, berarti terhijab oleh sesuatu yang hakikatnya tidak ada.
Wallahu alam bisowab…
Semoga bermanfaat buat diriku dan sahibku semuanya…
Selamat beraktifitas berselimut dzikrullah…

Senin, 26 Mei 2014

Anjuran untuk Berbakti kepada Orang tua dalam Al Quran

Para pembaca yang dicerahkan hatinya, menyambung lagi artikel sebelumnya mengenai berbakti kepada orang tua Part 2, silahkan buka artikel sebelumnya: Memaknai berbakti kepada orang tua.
Dan di edisi kali ini akan lebih banyak menampilkan dalil dari Al-Qur’an yang menggambarkan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua. Sebelum itu mari lihat pengertian dari berbakti kepada orang tua.



“Birrul walidaini” yaitu ihsan atau berbuat baik dan bakti kepada orang tua dengan memenuhi hak-hak kedua orang tua serta menaati perintah keduanya selama tidak melanggar syariat.


Lawan katanya yaitu “Aqqul walidaini”, yaitu durhaka kepada orang tua dengan melakukan apa yang menyakiti keduanya dengan berbuat jahat baik melalui perkataan ataupun perbuatan serta meninggalkan kebaikan kepada keduanya.


Hukum bakti kepada orang tua wajib ‘ainiy (mutlak) sedangkan durhaka kepada keduanya haram.


Bagaimana berbakti kepada orang tua menurut Al-Qur’an, sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berikut :


1. Perkataan “Ah” saja termasuk suatu dosa kepada orang tua apalagi, membentak, memukul, atau hal lainnya yang lebih kejam. Selain itu juga perlu berlemah lembut kepada orang tua selalu mendoakan keduanya agar dikasihi oleh Allah SWT.


وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا . وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنْ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا .الإسراء 23- 24  


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra(17):23)


 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al Isra(17):24)


2. Perintah berbakti kepada orang tua setelah perintah untuk beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukannya. Hal ini menggambarkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan bahwa bersyukur kepada orang tua (dengan berbakti kepada keduanya) merupakan kesyukuran kepada Allah SWT, karena Allah menciptakan semua manusia dari rahim orang tua.


قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا .الأنعام : 151


yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, (Al-An’am 151).


3.  Meskipun orang tua menyuruh kepada suatu perbuatan yang menyekutukan Allah SWT, atau orang tua tersebut masih belum memeluk Islam, sikap berbakti kepada orang tua tetap menjadi suatu kewajiban oleh seorang anak tanpa harus mematuhi perintah mereka yang menyalahi syariat.


وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ  [ لقمان 15


15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.


4.  Jasa orang tua terutama ibu diungkapkan dalam suatu ayat Al-Qur’an, dimana seorang ibu rela berkorban dalam mengandung anaknya, kemudian menyusuinya. Semua jasa orang tua di kala anak masih kecil dan lemah perlu diingat dan dikenang untuk selamanya.


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنْ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ [ لقمان 14 ]


14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.


Untuk menutup part 3, ada sebuah kisah nyata yang diceritakan Rasulullah SAW, mengenai 3 orang yang terjebak dalam gua, kemudian berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh yang mereka lakukan agar Allah berkenan menolong mereka dari gua yang tertutupi batu-batu.


Salah satu orang dari mereka menyebutkan bahwa amal shalehnya ialah “aku memiliki orang tua yang telah usia lanjut, dan aku selalu mendahulukan kepentingan mereka dibandingkan keluarga dan hartaku, aku biasanya membawakan minuman (susu) bagi mereka dan tidak membiarkan siapapun meminumnya kecuali setelah mereka minum. Apabila ini merupakan merupakan amal shaleh yang mengharap ridha-Mu maka keluarkanlah kami dari gua ini."


Pada akhir cerita, setelah setiap orang menceritakan amal shalehnya maka akhirnya pintu gua yang tertutupi bebatuan akhirnya terbuka dan mereka akhirnya keluar dengan selamat.


Marilah para sahabat kita merawat orang tua kita sebaik-baiknya, dan senantiasa mendahulukan kepentingan mereka.  Merupakan suatu kesalahan bila terlalu memanjakan anak dan pasangan tetapi mengacuhkan kepentingan orang tua yang seharusnya dijunjung tinggi dalam suatu keluarga. Orang tua memang membutuhkan materi (uang) tetapi masih ada yang lebih penting bagi mereka yaitu kasih sayang. Menyapa, menanyakan kabar mereka, kesehatan mereka, apa yang mereka inginkan merupakan suatu hal sepele namun berarti besar bagi mereka.
Penulis: Azhar Alam
Artikel: www.solusiislam.com 
http://www.solusiislam.com/2013/05/anjuran-untuk-berbakti-kepada-orang-tua.html